Tuesday, October 17, 2017

Pelatihan metode survey primata, hutan Sokokembang.

Foto bersama seluruh Peserta 

Habitat Owa jawa , hutan Sokokembang minggu ini menerima tamu-tamu  istimewa, anak-anak muda yang begitu antusiast untuk datang, belajar, berbagi pengalaman dan berjejaring untuk pelestarian primata di habitat aslinya . Pelatihan metode survey primata yang ke-5, dilaksanakan tanggal 13-15 Oktober 2017.  Kegiatan yang menjadi agenda tahunan yang telah dilakukan sejak tahun 2013. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendorong munculnya peneliti primata atau pegiat konservasi  primata dari generasi muda, Meningkatkan kemampuan teknis dan pengetahuan tentang primata,  dan mendorong munculnya jejaring peneliti atau pegiat konservasi primata di wilayah habitat asli primata yang terancam punah.
acara bertempat di Pendopo Kopi Owa

Bertempat di rumah Kopi Owa di dusun Sokokembang, Kayupuring, Kecamatan Petungkriono , secara khusus 22 peserta di berbagai institusi mewakili organisasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, kelompok pecinta alam, dan perwakilan dari BKSDA dan Perhutani di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, hadir untuk mengkuti rangkaian acara Pelatihan Metode Survey Primata 2017.
Pengamatan langsung di hutan

Selama 3 hari peserta di kenalkan dengan dasar-dasar teknik survey primata, yang diperkenalkan oleh tim SwaraOwa, tidak hanya dasar teori tapi juga langsung praktek di lapangan. Ada dua metode dasar yang di perkenalkan untuk survey primata, yaitu line transect dan metode vocal count-triangulation yang khusus di gunakan untuk estimasi populasi Owa Jawa. Dasar teori di berikan di awal acara dan kemudian esok harinya di praktekkan secara langsung di lapangan, termasuk bagaimana menganalisis data yang di peroleh.
Metode line transect diterapkan untuk mengestimasi populasi  primata secara langsung, dengan menggunakan jalur-jalur monitoring yang telah di persiapkan. Metode suara atau vocal count-triangulasi diterapkan berdasar Listening post (LPS) yang juga telah di persiapkan.

Jalur transek yang telah disiapkan
peserta di bagi dalam kelompok kecil untuk data collecting

Dalam kegiatan ini juga turut kita undang 3 pembicara yang berbagi pengalaman tentang penelitian dan konservasi Primata di tempat lain. Rahayu Octaviani dari Pusat penelitian dan konservasi Owa jawa di Gunung Halimun Salak, berkisah tentang kegiatan penelitian perilaku dan upaya pelestarian Owa Jawa. Penelitian sejak tahun 2007 di wilayah hutan Citalahab memberikan gambaran yang jelas tentang perkembangan perilaku dan populasi Owa jawa.
Rahayu Octaviani presentasi tentang Owa Jawa di Citalahab

Pembicara kedua yang kita datangkan di acara pelatihan ini adalah Nur Aolia coordinator program rehabilitasi Orangutan Yayasan Jejak Pulang, Kalimantan Timur. Aolia memaparkan ancaman kepunahan orangutan akibat hilangnya hutan dan perburuan. Banyak orangutan kemudian di”manusiakan”. Kegiatan rehabilitiasi yang mencoba menghutankan kembali orangutan, menjadi pengalaman yang berbeda bagi peserta.
Aolia presentasi tentang Orangutan

Ada satu pembicara yang di undang di acara ini adalah Andie Ang dari Singapura yang menceritakan pengalamannya membangun upaya konservasi dan penelitian monyet daun singapura (Raffless banded langur)-Presbytis femoralis. Penelitian DNA  untuk pelestarian primata di Singapura menjadi contoh yang menarik untuk melestarikan primata dengan melibatkan teknologi dan ilmu pengetahuan modern.  Kegiatan citizen science  yang di inisiasi untuk warga singapura memberikan hasil positif untuk meningkatkan kesadaran konservasi untuk primata yang terancam punah di Singapura.
Andie Ang dengan Raffles Banded Langur

Acara ini terselenggara melalui kegiatan "Kopi dan Konservasi Primata 2017, atas kerjasama dengan Kelompok Studi dan Pemerhati Primata Fakultas Kehutanan UGM di dukung oleh SwaraOwa, Fortwayne children zoo, Ostrava Zoo, dan Wildlife reserve Singapore.




Thursday, September 14, 2017

Pelatihan Budidaya Klanceng di Habitat Owa Jawa

Pengenalan lebah klanceng oleh Mas.Sidiq Harjanto

Welo Asri, 11 September 2017. Pelatihan budidaya lebah yang ada di habitat Owa bulan ini, juga dilakukan untuk lebah jenis stingless  atau lebih di kenal dengan klanceng. Lebah klanceng di habitat owajawa petungkriyono ini tercatat ada beberapa jenis, salah satunya Tetragonula laeficeps. Kalau pelatihan yang pertama kemaren tanggal 8-9 September bertujuan untuk mengenalkan teknik budidaya lebah madu-tawon unduhan (Apis cerana). Lebah lebah tanpa sengat ini berhabitat di hutan hujan dataran rendah, sementara itu utuk lebah sengat dari genus Apis ini lebih banyak di jumpa di habitat pegunungan, meskipun juga ada di dataran rendah.
Kantung madu lebah klanceng

Kita memilih lokasi di Welo Asri, salah satu tempat wisata yang di kelola warga kayupuring, untuk tujuan wisata. Pemilihan lokasi ini karena lebah-lebah klanceng, lebah kecil tanpa sengat ini banyak di hutan mulai dari Sokokembang hingga Kayupuring, dan beberapa warga memang telah mengenali klanceng dari madu nya yang lebih asam dibanding dengan madu yang di hasilkan oleh lebah madu (tawon unduhan). Namun sebenarnya jenis-jenis klanceng ini karena ukurannya yang kecil, menurut beberapa penelitian sangat berperan dalam penyerbukan tanaman kopi, untuk jenis robusta di hutan habiat Owa, dan bisa jadi ada korelasi positif antara produksi kopi robusta dan keberadaan klanceng.
inisiasi awal tentang lebah di habitat Owa Jawa telah di lakukan dan baca disini laporannya .

Memindah koloni alam ke kotak lebah

Pelatihan dipandu oleh tim swaraOwa dan turut mengundang 12 warga dari beberapa desa di Petungkriyono. Dimulai dengan pengenalan jenis-jenis lebah dan potensinya sebaga penghasil madu. Lebah-lebah klanceng ini banyak di besarang di lubang-lubang kayu atau bambu. Klanceng mempunyai struktur sarang yang berbeda dengan tawon unduhan, oleh karena itu kotak lebah klanceng juga berbeda dengan kotak lebah tawon unduhan.
kotak lebah klanceng

Pemindahan koloni dari alam dan bagaimana merawatnya dan mengembangkan koloni adalah sangat penting untuk klanceng agar supaya menetap di sarang barunya. Tanaman yang berbunga sepanjang tahun adalah sangat penting bagi sumber pakan klanceng. Jenis-jenis tanaman pangan yang berbunga sepanjang tahun juga mulai di identifikasi untuk di kembangkan di sekitar lokasi kotak klanceng.
Klanceng sebagai agen penyerbukan, penghasil madu, dan produk-produk turunannya sangat potensial di kembangkan sebagai bagian terintegrasi pertanian  yang ramah lingkungan. Di akhir acara ini rencana tindak lanjut pelatihan ini juga di diskusikan. Salah satunya adalah mengarus utamakan wisata edukatif tentang lebah di welo asri.  Wisata minat khusus yang sifatnya edukatif dan menambah pengetahuan dan pengalaman pengunjung akan di kembangkan di welo asri, salah satunya adalah lebah-lebah ini. Harapanya pengetahuan tentang lebah ini dapat di bagikan kepada pengunjung oleh para pemandu wisata yang ada di welo asri.


Monday, September 11, 2017

Pelatihan Budidaya Lebah di habitat Owa Jawa

peserta pelatihan lebah
Membudiayakan lebah masih menjadi hal baru untuk sebagian warga serkitar hutan, meskipun sudah di kenal lewat madunya, untuk mendapatkan madu sebagai salah satu sumber ekonomi tidak banyak warga sekitar hutan yang menekuni usaha lebah ini. Peran lebah sebagai penyerbuk tanaman pangan juga tidak banyak yang mengambil bagian untuk di prioritaskan. Habitat Owa di wilayah kecamatan Petungkriyono ini memiliki potensi yang baik untuk budidaya lebah, bunga-bunga dari pohon-pohon di hutan, dan tanaman budidaya  menyediakan sumber pangan bagi lebah, menghasilkan madu yang bernilai ekonomi tinggi.

sarang lebah dari kolini liar
Perburuan lebah liar di hutan untuk diambil madunya masih terjadi saat ini,tentunya hal ini sangat beresiko bagi yang memetiknya, koloni lebah juga terancam punah karena cara memanennya yang tidak mempertimbangkan kelestarian lebah itu sendiri, sarang lebah di ambil dan tentunya banyak yang mati. Ancaman lain yang muncul dari kegiatan perburuan lebah ini adalah terjadinya kebakaran hutan karena menggunakan api untuk memanen lebah liar,yang kadang di tinggalkan begitu saja bisa membesar dan membakar hutan, padahal lebah ini sangat berperan dalam sistem ekologi, sebagai penyerbuk tanaman pangan, produksi tanaman pangan bisa menurun apabila tidak ada serangga ata lebah penyerbuk. 

Beberapa warga sekitar hutan juga sudah mencoba membudidayakan hal ini, namun karena berbagai permasalahan teknis, kurangnya pengetahuan dasar tentang lebah, beberapa upaya budidaya tradisional ini kurang optimal. 

Tanggal 8-9 September ini, swaraowa mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas untuk warga sekitar hutan habitat Owa untuk membudidayakan lebah. Tujuannya adalah untuk memberikan kemampuan teknis dan pengetahuan dasar tentang budidaya lebah, sebagai sumber madu yang bernilai ekonomi tinggi juga mengarus utamakan lebah sebagai agen penyerbuk untuk tanaman pangan yang ada di sekitar hutan.
Dr. Hari mencoba memindahkan koloni ke kotak lebah

Kami mengajak DR. Hari Purwanto, seorang entomolog (ahli serangga) dari fakultas biologi UGM dan juga seorang yang di besarkan di keluarga peternak lebah di Kab.Batang. Pengalaman keluarga dan ilmu yang tentang lebah inilah yang di bagikan kepada peserta.

Berlokasi di dusun Setipis, Desa Kayupuring, Kec.Petungkriyono, acara ini di ikuti kurang lebih 20 orang warga, beberapa di antaranya memang mempunyai koloni lebah yang di pelihara, dan sebagian besar juga pernah mengelola lebah untuk di ambil madunya.
mencari permasalahan dari sistem budidaya lebah yang sudah ada 

Pelatihan ini menghususkan budidaya lebah asli yang ada dari hutan, yaitu Apis cerana, warga menyebut tawon unduhan, yang berbeda dengan lebah madu pada umumnya Apis melifera. Menurut pak hari, apis cerana bibitnya tidak perlu beli, karena jenis ini memang sudah ada di sekitar kita, dan tidak terlalu mudah terserang penyakit.  Pengenalan lebah sebagai makhluk sosial, yang mempunya perilaku khusus, adalah sangat penting sebagai dasar untuk membudidayakan.

Acara hari pertama adalah materi kelas, berisi teori-teori tentang lebah dan teknik budidayanya, dan kemudian praktek lapangan untuk menilai lingkungan yang cocok untuk budidaya lebah. Lebah sangat membutuhkan bunga, untuk sumber pakan dan kalau untuk menghasilkan madu tentu membutuhkan bunga yang tersedia sepanjang tahun. Sebagai contoh pak Hari menyebutkan, bahwa tanaman kaliandra merah yang cukup banyak di sekitar dusun Setipis, sangat penting bagi lebah, untuk saat ini tanaman ini hanya di gunakan untuk pakan ternak, namun untuk lebah harusnya tanaman ini disisakan hingga berbunga, supaya lebah juga bisa terus berada disekitar kita, karena bunga kaliandra merah ini sangat baik menyediakan nectar bagi lebah.

mengenalkan sistem kotak lebah frame dan peralatan pendukungya


Hari kedua, peserta di ajak untuk praktek langsung memindah koloni dari liar dan juga bagamana memperbanyak koloni dari koloni yang sudah ada. Pengenalan alat-alat untuk membantu budidaya lebah juga di perkenalkan, seperti penggunaan beenet dan  smoker. Kotak lebah yang khusus di design untuk jenis lebah Apis cerana juga di kenalkan, dengan kotak lebah system frame dan top bar, ini dapat mempermudah merawat lebah. Hari kedua di akhiri dengan diskusi bersama yang di pandu oleh tim swaraOwa untuk menyusun rencana tindak lanjut dari pelatihan ini.




Monday, August 28, 2017

Camera Trap : alternatif solusi pengamanan kawasan hutan


camera trap
Penggunaan camera trap hingga saat ini telah banyak membantu upaya penelitian terutama, untuk mendeteksi keberadaan satwaliar, monitoring populasi, dan identifikasi satwa yang sifatnya pemalu atau susah di jumpai di habitat aslinya.   Di hutan sokokembang sebagai habitat Owa jawa penggunaan camera trap ini telah di gunakan mulai beberapa tahun terakhir. Banyak binatang yang pemalu dan sangat susah di jumpai ter rekam di  camera. Jeni-jenis ini menambah daftar penting kawasan ini, sebagai habitat satwaliar.
pemasangan camera trap


Beberapa hasil dari camera trap ini dapat di lihat hasilnya di sini, salah satu temuan di hutan sokokembang ini juga  masih ada macan tutul jawa (baca : Kelana si Kembang Asem).

Setelah beberapa lama unit kamera tidak dapat di gunakan lagi karena beberapa masalah mekanis  kamera dan  kelembaban tinggi  baru minggu ini kita memasang camera trap lagi di hutan sokokembang, namun tujuan kali ini adalah untuk melihat pergerakan aktifitas manusia yang masuk ke hutan. Dari beberapa pengamatan di lapangan masih saja ada pemburu yang ke hutan, kegiatan ini tentu saja merugikan dari sisi keanekaragaman hayati, apalagi beberapa waktu terakhir ini kegiatan pengamatan satwa ini telah menjadi alternatif wisata alam di antara maraknya wisata massal yang sedang di kembangkan di wilayah ini.
video


Penggunaan camera ini akan menjadi rekomendasi selanjuntnya untuk pihak terkait, yang bekepentingan dengan pengamanan kawasan, meskipun masih bersifat ujicoba penggunaan camera trap untuk pengamanan kawasan bisa menjadi alternatif menggantikan patroli hutan, terutama di lokasi-lokasi yang sulit di jangkau. Kita hanya memasang dan meninggalkan unit kamera dalam waktu tertentu, dan apabila ada yang melewati camera ini akan terekam, foto atau video, jam dan tanggalnya. . 
Bagi anda yang tertarik dengan kegiatan ini, silahkan hubungi email swaraOwa at gmail dot com, atau berkunjung ke dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan Jawa Tengah.




Monday, July 31, 2017

Kopi untuk Owa Jawa


Inisiasi konservasi primata, Owa jawa, melalui kegiatan “Kopi dan Konservasi Primata” bulan agustus ini telah berhasil menembus komunitas global, khususnya di wilayah Asia. “Kopi dan Konservasi Primata” yang kita mulai sejak tahun 2012, di dusun Sokokembang, Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, melalui produk kopi Owa,  setidaknya telah di kenal di masyarat internasional. Meskipun presentasi kegiatan ini juga pernah di lakukan di Vietnam (2014) dan Chicago (2016), baru tahun ini kita mencoba ikut dalam forum peminat dan pecinta kopi.   Kalau acara sebelum-sebelumnya presentasi di komunitas pegiat  dan peneliti primata, kali ini kami mencoba mengarusutamakan upaya pelestarian primata Indonesia Owajawa di komunitas kopi dunia. Mengenalkan Owajawa dan kegiatan konservasinya untuk para penikmat kopi.
tim swaraOwa
Bekerjasama dengan Wildlife reserve Singapore, kami berpartisipasi dalam acara Singapore coffee festival, tanggal 4-6 Agustus 2017. Dan mulai tanggal tersebut juga kopi Owa resmi di jual di outlet di kebun binantang singapura.   

kopi Owa di acara festival kopi Singapura
Proyek Kopi dan Konservasi Primata ini setidaknya telah membawa pengalaman baru bagi tim swaraOwa untuk membangun sebuah inisiasi dari bawah untuk kegiatan upaya pelestarian primata. Tidak hanya melakukan kegiatan penelitian, namun dengan kegiatan ini kita setidaknya telah berhasil membuat sekema  ekonomi berkelanjutan untuk konservasi Owa Jawa, khususnya di wilayah sebaran Jawa Tengah.

Kopi kemasan yang di jual di Singapura
Tahun 2015 wildlifre reserve Singapore juga telah berkunjung ke habitat Owa di Sokokembang dan bertemu dengan pihak pemerintah BapedaKab.Pekalongan. karena sejak tahun 2013 WRS Singapore juga telah menjadi salah satu donor dari kegiatan ini. Mengenalkan Owa jawa di komunitas global dan mengenalkan daerah habitat asli, harapannya juga mendorong di tingkat site bahwa kita mempunyai primata yang menjadi indentitas di tingkat internasional, kontribusi apa  yang bisa kita berikan untuk primata asli Indonesia  dan habitatnya, tidak hanya menjadi kewajiban kita yang ada di sekitar hutan namun  sudah menjadi perhatian masyarakat internasional.

Wednesday, July 26, 2017

Arung ombak Mentawai: Burung Laut Pulau Siberut




ditulis oleh : 
Imam Taufiqurrahman,
email : orny_man@yahoo.com

Melaju di atas Mentawai fast

Sekira dua jam lepas pelabuhan Padang, seekor burung laut yang tengah asyik mengapung tiba-tiba terbang menghindar dari kapal cepat yang saya tumpangi. Ukurannya tak seberapa besar dan tampak hanya hitam. Sejenis petrel-badai kah, atau penggunting laut?
Ah, sayang terlewatkan. Mengetahui itu, Kang Wawan lantas mengajak ke buritan. Saya tak menolak.

Cuaca terasa bersahabat. Langit cerah biru berawan tipis, matahari pun masih hangat. Air laut tampak begitu tenang tak beriak. Di dek belakang ini, beberapa penumpang mancanegara asyik berbincang. Lainnya sekadar duduk melamun menatap laut atau tertidur. Sebagian besar mereka ini datang untuk mencandai ombak Mentawai.
Iku ki papan surfing kabeh, Mam,” (Itu papan surfing semua, Mam) jelas Kang Wawan saat melihat saya bersandar pada setumpukan barang yang rapat tertutup terpal. Tak mengherankan memang. Seperti Nias, sisi barat Kepulauan Mentawai menghadap Samudera Hindia. Di musim yang tepat seperti saat ini, terbentuk gulungan-gulungan ombak yang menarik minat para penunggang ombak.
Buntut-sate putih ras lepturus
Tiba-tiba seekor burung putih melintas dari arah depan kapal. Ekornya berpita panjang menjuntai. Tak salah lagi, buntut-sate putih Phaethon lepturus. Senang sekali melihatnya. Biasanya hanya bisa menjumpainya dari tepian tebing di Gunung Kidul. Baru ini saya menjumpainya di laut lepas. Kang Wawan menunjuk seekor lagi yang tengah mengapung-apung di lautan. Laju Mentawai Fast mengagetkan si burung yang lantas terbang menjauh.
Buntut-sate putih ras fulvus
Berbeda dari buntut-sate putih sebelumnya yang berwarna kekuningan, burung kedua itu terlihat putih bersih. Tak salah lagi, mereka dua anak jenis berbeda; yang berwarna kekuningan adalah fulvus, dikenal juga sebagai Golden Tropicbird, sementara yang putih bersih dari anak-jenis lepturus. Beberapa ekor dara-laut batu Onychoprion anaethetus dan seekor yang kembali tak teridentifikasi menemani perjalanan. Pukul 11 kapal sandar di pelabuhan pertama, Pelabuhan Laut Pokai, Muara Sikabaluan. Dua jam lagi hingga Pelabuhan Mailepet di Muara Siberut yang jadi tujuan.

    





Thursday, July 6, 2017

Kera kecil Mentawai : Bilou

Bilou jantan 

Dari kepulauan Mentawai, kali ini beruntung bisa mendokumentasikan si kera kecil Mentawai,  Bilou (Hylobates klossii),  yang juga lebih populer dikenal dengan nama Siamang kerdil, meskipun ukurannya juga tidak kerdil  sama sekali, ukuran Bilou sama dengan jenis  kera kecil lainnya, seperti Owa di Jawa atau di Kalimantan. Owa berambut hitam ini hanya di temukan di Kep.Mentawai, Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan.  

video
hutan rawa habitat Bilou

Dari catatan kami, bilou ini mulai aktif ketika hari masih gelap, dinihari sekitar jam 2 pagi, dengan khas suaranya sepertinya inilah panggilan Owa yang menurut beberapa ahli primata, merupakan panggilan yang paling sahdu di antara semua jenis Owa. Kami mulai mencatat informasi dari warga sekitar siberut selatan di mana bisa mengamati Bilou, dengan pertimbangan aksesibilitas dan biaya transportasi, maka kami pergi ke hutan di sekitar muara siberut, kurang lebih 30 menit menyusuri rawa gambut.
sedang mencoba alat perekam suara

Kami mulai pengamatan sekitar jam 4.30,hari pertama mencoba mengamati dari arah mana saja suara yang terdengar, dan kira-kira ada berapa kelompok yang bersuara, mencatat jam berapa mereka mulau bersuara hingga jam berapa mereka berhenti besuara. Kompas dan jam menjadi acuan untuk hari selanjutnya kita mendekati kelompok yang terdekat, karena tujuan kami adalah mencoba merekam video si bilou ini. Hari kedua di waktu yang sama kita mencoba mendatangi arah suara bilou yang terdekat, dengan membuat jalur di hutan rawa.
teramati 2 individu 
Setelah hampir kira-kira cukup dekat dengan posisi kelompok yang bersuara tadi, kita menyiapkan Listening post disini, dan ini akan kita gunakan untuk pengamatan selanjutnya, dan juga kalau memungkinkan merekam dan mengambil dokumentasi. 
Selama 4 hari berturut turut kami dapat mencatat di satu listening point ini ada 6 kelompok yang bersuara, dan ada satu kelompok yang cukup dekat dengan titik kita ini.

Kiranya cerita lapangan ini akan terus bertambah, dan ikuti terus laporan kami dari bumi sikerei, dan akhirnya kita ketemu langsung dengan induk dan anak bilou.
video
panggilan Bilou betina



Saturday, June 3, 2017

SwaraOwa #Rainforestlive 2017


Tanggal 8 Juni 2017, selama 24 jam gunakan sosial media dengan taggar #rainforestlive untuk melihat hidupan liar dari hutan hujan di seluruh dunia. 

Apa itu Rainforest:Live?
Hutan Hujan habitat Owajawa
Hutan Hujan (Rain forest) mempunyai kanekaragama hayati yang sangat tinggi. Kita mengenal Gajah, Orangutan, Gorila, Harimau,dan Badak dengan sangat baik  karena mereka sangat berkarisma, dan mudah dikenali juga rentan dengan kepunahan. Namun masih ada ribuan lagi hidupan liar di hutan hujan, Owa ,monyet, kucing liar,  serangga, burung, kumbang, capung, kodok, laba laba, dan masih banyak lagi yang sangat jarang menjadi berita, padahal mereka juga saling terkait dan mendukung sama pentingnya dalam sebuah system ekologis.
Kantung semar dari hutan Siberut
#Rainforestlive akan menggunakan kekuatan sosial media untuk memperlihatkan keunikan dan keindahan hutan hujan yang mungkin banyak di antara kita tidak pernah melihat atau merasakannya. Selama 24 jam foto, video, rekaman suara, dan mungkin juga siaran langsung dari hutan akan dilakukan oleh peserta yang berada di berbagai penjuru hutan di bumi, sudah ada 20 organisasi konservasi   dan proyek penelitian hutan disebaran hutan hujan di Asia, Afrika dan Amerika Selatan akan berpartisipasi, mengabarkan temuan temuan atau pengamatan selama di hutan, menggunakan sosial media mainstream saat ini twitter, facebook, Instagram, flikr,  youtube, soundcloud dan sosial platform sosial media yang lainnya menggunakan taggar #rainforestlive.

Acara ini ditujukan untuk memberikan gambaran kepada publik, mengenalkan dan merasakan hutan hujan melalui hidupan liar yang ada di dalamnya. Rainforest:live di harapkan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kita berbagi ruang dengan hidupan liar dan kita juga banyak tergantung pada hutan,  dan hutan adalah harta yang tak ternilai dan layak kita perjuangkan kelestariannya. Acara ini juga akan  di kumpulkan jadi satu menggunakan Storify, dimana keseluruhan posting di sosial media peserta di jadikan satu berdasarkan taggar #rainforestlive dan waktu.
Disini link Storify ,  dan tahun 2016 dengan taggar #rainforestlive ternyata mencapai lebih dari 1.5 juta orang.


#Rainforestlive tahun ini di kelola oleh Borneo Nature Foundation, yang berada di Kalimantan.
SwaraOwa, akan bergabung dengan komunitas global ini untuk mengenalkan hidupan liar yang ada di habitat Owa jawa (Hylobates moloch),hutan Sokokembang, Petungkriyono, kabupaten Pekalongan,  dan juga yang terbaru juga dari kegiatan kita di pulau Siberut untuk pelestarian Bilou (Hylobates klossii). Acara ini selain menunjukkan bahwa kita warga di sekitar hutan juga menaruh perhatian dan mengajak publik untuk melestarikan hutan , acara ini sekaligus juga menjadi promosi konservasi yang mendunia yang di inisiasi di habitat asli hutan hujan.
 Kami akan mencoba live dari habitat apabila memungkinkan, dan juga akan memposting  foto, video, rekaman suara dari hutan  yang mana foto-foto ini diperoleh ketika pengamatan dan penelitian di hutan.
Jenis lebah tanpa sengat
Bagi anda yang ingin mendukung  atau berdonasi di acara ini silahkan hubungi kami, di akun sosial media @swaraOwa, twitter, ig, soundcloud dan facebook, atau youtube, atau email kami di sokokembang.channel at gmail dot com.

Tuesday, May 30, 2017

Burung-Burung Siberut : warisan unik yang hampir larut

ditulis oleh : Imam Taufiqurrahman, email : orny_man@yahoo.com; Foto : Ismael Saumanuk

Peta kuno kep.Mentawai, dari Pinterest.com
Gulungan ombak dan kekhasan adat budaya telah lama membuat Siberut menjadi perhatian dunia. Namun keunikan pulau terbesar di gugus kepulauan Mentawai ini tak hanya itu. Nyaris separuh dari 37 jenis mamalia, termasuk lima primatanya, berstatus endemik. Ada sekitar 6o jenis herpetofauna dan lebih dari 150 jenis burung telah tercatat.

Misteri avifauna yang ada pernah mencipta daya tarik tersendiri bagi para naturalis. Uniknya, ini belumlah berlangsung lama. Dibanding Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan sebagai pulau-pulau utama Bumi Sikerei, eksplorasi burung di Siberut menjadi yang terakhir dilakukan.
Cecil Boden Kloss yang berkebangsaan Inggris, bersama rombongan dari Museum Raffles Singapura, adalah yang mengungkapnya pada 1924. Terpaut 22 tahun ketika Kloss pertama datang ke Pagai Utara dan Pagai Selatan, berselang 32 tahun setelah Dr. E. Modigliani asal Italia datang ke Sipora.

Jauhnya rentang waktu terjadi bukan tanpa sebab. Mengawali pemaparan hasil eksplorasinya, Kloss mengungkap alasan di balik itu. “Telah beberapa kali saya mengajukan ijin pada pemerintah Hindia Belanda untuk kunjungan ke Siberut,” jelasnya, “ Ketika akhirnya ijin turun, naturalis yang namanya tersemat pada salah satu primata endemik Mentawai ini mengeksplorasi avifauna Siberut selama satu bulan. Ia lalu mengunjungi kembali Sipora dan Pagai setelahnya. Kedatangan Kloss dan rombongannya ini tak hanya untuk burung, namun juga flora fauna lainnya serta etnografi. Hasil-hasil eksplorasi itu terpublikasi secara terpisah, dengan mengusung satu tajuk judul, Spolia Mentawiensis (atau dalam beberapa makalah tertulis Spolia Mentawiensia).
Srigunting kelabu
Kloss menyusun laporan hasil eksplorasi burung bersama Frederick Nutter Chasen. Tercatat 87 jenis di seluruh Kepulauan Mentawai. Khusus Siberut, ia mengumpulkan 314 spesimen dari 58 jenis. Enam di antaranya (dari total sebelas untuk seluruh kepulauan) dikukuhkan sebagai taksa baru, termasuk celepuk mentawai Otus mentawi yang di kemudian hari menjadi jenis tersendiri. 
Mengacu daftar jenis dari IOC, kini Kepulauan Mentawai memiliki dua jenis endemik. Selain celepuk mentawai, terdapat uncal pulau Macropygia modiglianii yang baru-baru ini dipisahkan dari uncal buau Macropygia emiliana. Adapun anak jenis dari kadalan birah Phaenicophaeus curvirostris  oeneicaudus, elang-ular bido Spilornis cheela sipora atau srigunting sumatera Dicrurus sumatranus viridinitens, terdapat beberapa ahli memisahkannya menjadi jenis tersendiri. Namun demikian peneguhan ini belum diamini seluruh kalangan.
Elang ular bido yang teramati di Siberut
Di hasil yang terbilang gemilang itu, Kloss sampai berani sesumbar, “Saya kira tak akan banyak lagi temuan tersisa bagi yang berikutnya berkunjung untuk kepentingan ornitologi, kecuali mungkin jenis-jenis migran dan burung pantai.”
Pernyataan Kloss seakan mampu menghentikan kajian ornitologi di pulau yang hampir seukuran Nias itu. Saat ini, di hampir satu abad setelahnya, hanya terbit sepuluh makalah mengenai burung-burung Siberut. Dua di antaranya yang mengungkap keberadaan sejenis paruh kodok sempat ramai diperbincangkan. Beberapa ahli menduga itu sebagai anak jenis dari paruh-kodok tanduk Batrachostomus cornutus yang belum terdeskripsi. Namun hanya sampai sebatas itu. Tak ada lagi kejelasan, tak terdengar lagi ada upaya pengkajian lebih dalam.
Mengingat keunikan sejarah alam Siberut, sebenarnya banyak tema lain yang menarik untuk dikuak. Berjarak hampir 150 km dari daratan Sumatera tidak serta-merta menjadikan avifauna Siberut serupa. Ketiadaan beberapa famili penghuni lantai hutan, seperti ayam hutan dan sempidan (Phasianidae) atau burung-burung semak, seperti pelanduk dan tepus (Timaliidae) demikian kontras dengan kondisi hutan Sumatera atau bahkan Sunda Besar. Tak ada satupun perwakilan dari burung pelatuk (Picidae), takur (Megalaimidae), atau kacamata (Zosteropidae), untuk menyebut beberapa.
Trinil Kaki Merah
‘Kekosongan’ yang diketahui semenjak lama itu menciptakan kekhasan relung ekologi yang menarik untuk dipelajari. Beragam jenis bajing tanah, tikus, dan mamalia kecil lainnya dianggap mengisi ketiadaan anggota burung semak. Banyaknya anggota keluarga merpati (Columbidae) seakan menggantikan ketiadaan jenis-jenis takur atau rangkong (Bucerotidae) yang hanya diwakili satu jenis. Pernah dilaporkan perilaku srigunting yang mencari makan dengan gaya pelatuk.
Beo Siberut
Kajian etno-ornitologi tak kalah menariknya. Lebih dari 50 jenis burung memiliki nama lokalnya sendiri. Cukup menjadi indikasi betapa dekat kehidupan masyarakat suku Mentawai yang dikenal sebagai salah satu suku tertua di Nusantara dengan burung. Belum lagi keberadaan lagu, tarian, motif dalam uma dan titi atau kisah-kisah legenda terkait hubungan manusia Mentawai dan burung.
dinding sebuah uma di Siberut
Minimnya eksplorasi ornitologi di Siberut membuat kesempatan melakukan penelitian terbuka lebar. Tak hanya taksonomi, ekologi, dan etno-ornitologi, studi jenis-jenis tunggal, juga upaya konservasinya, penting untuk dilakukan. Apalagi dengan kian berkurangnya tutupan hutan, proyek pengembangan sarana dan prasarana berupa jalan maupun bangunan atau jumlah penduduk yang kian bertambah. Belum lagi ancaman dari perburuan burung untuk diperdagangkan. Tantangan nyata ada di hadapan.

Tuesday, May 23, 2017

Suara Alam Mentawai

Mulai bulan maret 2017, swaraOwa juga ada kegiatan di Kepulauan Mentawai, khususnya Siberut, tentunya untuk menambah pengalaman lapangan,membangun jaringan untuk memberikan kontribusi dalam upaya pelestarian jenis Owa endemik Kep.Mentawai. Owa di kep.Mentawai berwarna hitam gelap, dikenal dengan nama, Bilou nama ilimiahnya  (Hylobates klossii), silahkan cek di  daftar merah IUCN  untuk informasi tentang species ini.  
Bilou dan anaknya

Awal kegiatan ini bermula tahun 2010-2012, cerita lapangan waktu itu bisa di baca di blog http://monyetdaun.blogspot.co.id/ , dengan kata kunci " bilou ". Kemudian di akhir tahun 2016, bersama tim lapangan dari Siberut Selatan yang di motori oleh Damianus Tateburuk dan Ismael Saumanuk (Aman Andei) melalui Uma Malinggai Tradisional Mentawai, kami mencoba berkolaborasi lagi melakukan hal kecil untuk kontribusi menyebarkan pesan positif  pelestarian primata asli Mentawai khususnya di Pulau Siberut.
Menyusuri sungai Siberut

Bulan Maret 2017,  kami mulai dengan menggunakan peralatan  fotografi dan audio untuk dokumentasi keanekaragaman hayati di Pulau Siberut. dengan foto inilah kita dapat bercerita tanpa banyak kata-kata, Aman Andei dengan "panah" barunya untuk berburu yaitu sebuah camera  NIKON P900 dan Dami juga telah menggunakan kamera untuk dokumentasi. Tujuannya adalah untuk merekam keanekaragaman hayati, budaya dan peristiwa yang sehari hari terjadi di sekitar mereka.
Berburu foto

Kami langsung menuju lokasi berburu, di sekitar Siberut selatan, target kami adalah burung-burung di sekitar muara siberut. Sangat beruntung karena bulan-bulan ini adalah bulan dimana musim migrasi, jadi ada tamu-tamu istimewa dari belahan bumi utara yang singgah di Siberut. Beberapa foto yang kami dapatkan di antaranya ini. Selama beberapa hari berturut-turut kami menyambangi muara sungai siberut (dibelakang pasar siberut selatan), Kesempatan yang langka dan juga beruntung kami dapat menyaksikan langsung tamu-tamu jauh burung-burung migran yang singgah di Pulau Siberut.
Menyusuri sungai Siberut
Trinil kaki merah  ( 2 individu kiri) dan Cerek kernyut ( kanan)



Banyak hal terjadi terkait dengan keanekaragaman hayati di tempat-tempat yang sulit di jangkau, kita tidak pernah tahu dan tidak kenal, karena tidak ada dokumentasi apapun tentang hal itu. Oleh karena itu peran warga sekitar  habitat keanekargaman hayati berperan penting dalam mengarus utamakan pentingnya pelestarian alam. Lebih penting lagi foto-foto dan rekaman audio yang kami dapatkan dari alam mentawai juga menjadi semangat tersendiri bagi kami untuk terus berbuat sesuatu menyuarakan keindahan  dan kelestarian alam.
Piligi nama lokal siberut untuk burung elang ular bido

Pantau terus lini masa kami @swaraOwa dan tim dari lapangan dengan harapan suara alam Mentawai terus bergema menebarkan pesan positif  nilai keanekaragaman hayati dari pulau-pulau  di Samudera hindia,  ucapan terimakasih juga untuk  IUCN Gibbon specialist group dan Wildlife reserve Singapore yang telah mendukung kegiatan ini