Friday, December 15, 2017

Joja Atapaipai : pesona dari Mentawai

Sipora, salah satu rangkaian 4 pulau besar di Kepulauan mentawai, menjadi tujuan primatewatching bulan lalu. Catatan penelitian primata di pulau ini sudah sejak tahun 70 an sudah ada kegiatan penelitian primata endemik mentawai. sudah tentu tempat ini menjadi populer di kalangan pegiat alam, yang sekedar melihat langsung  hidupan liar.

Meskipun sebagai pusat pemerintahan, tentunya prioritas pembangunan infrastruktur juga berdampak pada luasan hutan sebagai habitat hidupan liar yang hanya ada di pulau ini. Catatan-catatan perjumpaan hidupan liar di kepulauan mentawai, banyak di laporkan melalui penelitian-penelitian akademis, dan kadang bahasanya juga tidak selalu mudah di mengerti oleh masyarakat luas.  Pengambil kebijakan untuk pembangunan juga tidak sempat untuk membaca-baca laporan penelitian tersebut, sehingga  untuk referensi pembangunan juga tidak tersedia.

Tulisan ini bertujuan mempopulerkan dan mengarusutamakan pesona asli kepulauan mentawai, primata-primata endemik, berdasar  pengamatan lapangan di habitat asli dan menyampaikan kepada masyarakat luas agar mudah dipahami, dan di kenal oleh siapapun.

Joja dari Pulau Siberut

Hidupan liar di alam, juga memiliki nilai ekonomi yang bekelanjutan, dan sangat memungkinkan menjadi sebuah upaya perlindungan yang lestari bila di kembangkan dalam konteks pembangunan. Budaya global dengan nilai ke unikan hidupan liar tentu menjadi identitas tersendiri yang membedakan dengan tempat lain.


Salah satu yang menjadi daftar primata yang bisa kita jumpai di Sipora adalah Presbyts potenziani, jenis surili endemik mentawai, pemakan daun, warga sekitar mengenal dengan nama Atapaipai, yang berarti berekor panjang,  lebih umum dikenal dengan nama Joja di Siberut.

Joja Atapaipai dari Pulau Sipora

IUCN redlist mengkategorikan jenis primata ini menjadi 2 sub species, yang ada di Pulau Siberut,adalah Sombre bellied Mentawai Langur  (Presbytis potenziani ssp siberu) dan yang ada di 3 pulau lainnya (Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora) sebagai Golden bellied Mentawai Langur (Presbytis potenziani ssp potenziani)  Secara morfologi memang terlihat bebeda, dan kami menjumpai di siberut dan, pagai dan juga di sipora. Joja Siberut mempunyai wana bagian dada ke perut agak gelap, smentara di Atapaipai yang di jumpai di Sipora dan Pagai mempunyai warana bulu bagian dada karah perut berwarna putih ke emasan.  Beberapa foto dari siberut juga mendapati warna putih di sekitar kemaluan.
Joja dari Pulau Siberut
Referensi :


Whittaker, D. & Mittermeier, R.A. 2008. Presbytis potenziani. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T18130A7667072. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T18130A7667072.en
Downloaded on 15 December 2017.

Fuentes, A., 1996. Feeding and ranging in the Mentawai Island langur (Presbytis potenziani). International Journal of Primatology17(4), pp.525-548.

Wednesday, December 13, 2017

Heterotrigona itama dari habitat Owa

Salah satu kegiatan penguatan ekonomi di habitat Owa Jawa, khususnya di wilayah hutan Sokokembang, Petungkriyono Pekalongan adalah membudidayakan lebah hutan. Bertujuan selain untuk produksi madu yang bernilai ekonomi tinggi dan sehat, namun juga mengarus utamakan peran lebah-lebah ini sebagai agen penyerbukan, pollinator.



Yang dalam video ini adalah jenis lebah madu klanceng memang paling besar di genus trigona,Heterotrigona itama lebah yang berwarna hitam dan, dan tentunya untuk produksi madu juga lebih cepat, secara kemampuan jelajah terbang tentu jenis ini juga lebih banyak mengunjugi bunga, kemungkinan fungsi pollinatorya juga lebih luas. Pelatihan budidaya lebah beberapa waktu lalu setidaknya juga telah memberi pengetahuan dan pengalaman baru bagi warga sekitar habita Owa, bahwa lebah-lebah ini juga turut berperan penting bagi lingkungan sekitar.

Warga ds.Sokokembang dengan kotak lebahnya

 Lingkungan yang sesuai tentu saja menjadi syarat untuk tumbuh berkembangnya lebah-lebah ini, dan tentunya butuh waktu untuk berproses menjadi sumber pendapatan  yang berkelanjutan. Harapan juga hutan terus lestari, karena semakin banyak pollinator juga memungkinkan hutan dan tanaman pangan terus ber regenarasi.
Peran penting lebah untuk penyerbukan tanaman

bacaan lebih lanjut :
https://taxo4254.wikispaces.com/Heterotrigona+itama
http://welovefuture.net/meliponiculture/?lang=en


Saturday, December 9, 2017

#primatajawa


Mengajak anda mengenal dan melestarikan primata Jawa.  Lutung , Rekrekan, Owa, Kukang dan Monyet Ekor Panjang, itulah 5 jenis primata yang ada di Pulau Jawa hingga saat ini.  Tersebar mulai dari ujung barat pulau jawa hingga ujung timur Pulau Jawa. Rekrekan dan Owa hanya terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa barat Rekrekan di kenal dengna nama Surili. Monyet ekor panjang adalah yang paling luas sebarannya, dan dapat beradaptasi dengan kondisi habitat mulai dari pantai , sampai pegunungan, bahkan di tengah kota.  Owa, jenis kera yang bergerak menggunakan lengan tangan, mempunyai suara yang khas dipagi hari, adalah satu-satunya jenis kera yang ada di Jawa. Hutan yang masih alami adalah tempat hidupnya,pemakan buah . Kukang adalah satu satunya primata (nocturnal) malam di jawa.

Primata-primata  ini terancam punah karena, hilangnya habitat aslinya, perambahan hutan, dan perburuan. Kukang hingga saat ini termasuk  salah satu  dari 25 primata dunia yang paling terancam punah. Owa, dan Rekrekan statusnya terancam punah (endangered) , Lutung masuk dalam kategori rentan (Vulnerable).

Kami mengajak anda untuk mengenal dan melestarikan primata-primata jawa, banyak nilai penting mereka di alam, untuk penelitian, edukasi, rekreasi, dan tentunya juga identitas kita di komunitas global, karena tidak di jumpai di negara lain selain di Pulau Jawa.

Sebagai salah satu bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi  Primata tahun 2017, kami membuat poster primata jawa,  poster ini di buat untuk khalayak umum sekaligus untuk membantu mengenalkan dan mendorong upaya pelestarian primata di Jawa. 

Untuk masyarakat umum, poster ini dapat  anda dapatkan ketika anda berkontribusi melalui program “#primatajawa ” dengan  membeli produk-produk konservasi yang berkelanjutan yang terkait dengan kegiatan  “Kopi dan Konservasi Primata “ , melalui akun media sosial @swaraOwa., dan email: swarowa@gmail.com ; http://swaraowa.com/sustainable-products/   atau mengunjungi workshop SwaraOwa,   lokasi : https://goo.gl/maps/Uy6ZnkG5Uow

Anda dapat berkunjung di habitat primata Jawa secara langsung di Omah kopi owa, ds. Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono dan Welo Asri di desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dengan belanja produk-produk dari habitat asli berupa, kopi, gula aren, madu, t-shirt dengan minimal belanja Rp 85.000,00 (Delapan puluh lima ribu rupiah) anda akan mendapatkan 1 poster.

Poster ini juga akan  di berikan secara cuma-cuma/gratis bagi sekolah, kelompok studi, atau komunitas,  yang tertarik untuk mengenalkan dan mengarus utamakan pelestarian  primata Jawa. silahkan hubungi kami di : swaraowa@gmail.com


Ikuti terus perkembangan kegiatan ini dengan taggar #primatajawa di blog www.swaraowa.blogspot.com; www.swaraowa.com; dan akun sosial media kami IG/twitter/FB/Soundcloud @swaraowa

Kegiatan untuk #primataJawa ini berlaku mulai tanggal 15 Desember 2017 hingga 15 Januari 2018

Wednesday, November 29, 2017

Siregol Primate Watching


Kegiatan yang fun namun ada tambahan pengetahuan dan pengalaman konservasi menjadi salah satu strategi untuk melestarikan primata Indonesia. Siregol primate watching, tanggal 25-26 November 2017, sebuah event yang di gagas oleh warga sekitar habitat Owa Desa Kramat, Kecamatan.Karang moncol  dan Perhimpunan Pegiat Alam Ganesha Muda Purbalingga, telah berhasil mengundang setidanya 38 peserta dari berbagai institusi, seperti mahasiswa, kelompok pecinta alam, LSM, dan staff pemerintah.  Tujuan kegiatan ini adalah mengenal primata dan melihat langsung habitat primata di sekitar desa Kramat. Kegiatan ini juga inisiasi awal untuk mengarusutamakan pelestarian primata dan habitatnya untuk melibatkan masyarakat umum.  
Habitat Owa, Siregol


Swaraowa berpartisipasi untuk mendukung kegiatan ini, sebagai  bagian dari salah satu tujuan untuk  melestarikan primata dan habitat aslinya, khususnya Owa jawa dan juga memfasilitasi diskusi dan memandu kegiatan pengamatan primata di bukit Siregol, desa Keramat.  Menjelang malam tanggal 25 November, para peserta mulai berdatangan, sebagai pengantar kegiatan Siregol primate watching ini, Bapak kepala desa Keramat dan wakil dari Perhutani membeirkan sambutan selamat datang kepada para peserta. ( video diskusi siregol primate watching https://www.youtube.com/watch?v=R8A9eYvnvlc) 
foto bersama peserta Siregol Primate Watching. foto oleh : M.Faiz

Selanjutnya, diskusi tentang upaya pelestarian primata di wilayah Jawa Tengah di sampaikan oleh mas Apris dari Biodiversity Society Purwokerto dan mas Agus dari BKSDA Jawa Tengah. Mas apris menceritakan pengalamannya membangun upaya pelestarian satwa langka di sekitar desa Melung lereng selatan Gunung Slamet dan mas Agus dari BKSDA Jawa Tengah, turut berbagi pengalaman tentang peran pemerintah dalam melindungi satwa langka .
Diskusi kelompok Setelah pengamatan. Foto Oleh : M.Faiz

Esok harinya tanggal 26 November, acara pengamatan di mulai pukul 5.30 pagi, langsung menuju lokasi pengamatan di tepi jalan antara dusun Kramat dan dusun Sirau. Bukit Siregol, sangat unik dengan landscape pegunungan karst dan vegetasi alami hutan hujan tropis jawa yang tidak dapat di jangkau namun dapat di nikmati pemandangannya dari jarak tidak terlalu jauh.  Peserta yang berjumlah 38 ditambah dengan panitia di bagi menjadi 3 kelompok, yang berjalan dengan jeda 10 menit menyusuri jalan tepi tebing bukit siregol sejauh kurang lebih 3 km.  Tercatat langsung pagi itu 1 kelompok Owa (Hylobates moloch )yang terdiri dari 3 individu, dan 2 kelompok Lutung ( Trachypithecus auratus) teramati. Binokuler, Monokuler dan kamera tele sangat di butuhkan untuk pengamatan di Siregol, karena jarak yang cukup jauh untuk mata telanjang mengidentifikasi primata yang teramati.

Salah satu kegiatan penutup di acara ini adalah pemberian sertifikat, untuk mengapresiasi peserta yang turut berpartisipasi.  Hal yang sederhana namun sangat berarti bagi mungkin sebagian peserta bahwa pengalaman pengamatan primata ini menjadi hal yang berbeda dan sangat mungkin untuk melakukan lagi kegiatan serupa di tempat lain.

salah satu peserta dengan sertifikat siregol primate watching
Siregol primate watching setidaknya telah memotivasi warga sekitar habitat primata , bahwa wilayah mereka masih mempunyai keunikan yang tidak dimiliki daerah lain, harus dilestarikan,  dan membangun jaringan pegiat konservasi khususnya di wilayah Jawa Tengah. Kelestarian hutan dan nilai penting flora fauna ini juga merupakan identitas daerah yang sangat penting dalam pergaulan global.  Potensi keanekargaman hayati, dengan ke unikannya sudah selayaknya menjadi prioritas dalam pembangunan yang berkelanjutan. 

Wednesday, November 15, 2017

Suara Alam Mentawai : Ailou LeLeu Mantaoi


Meskipun banyak orang telah melihat ke indahan dan keanekaragaman hayati dari kepulauan Mentawai, tapi apakah anda juga telah mendengar suara-suara alam atau suara-suara keanekaragaman hayati yang anda lihat?

Suara-suara alam, baik hidupan liar, seperti burung, kodok, primata, bahkan deburan ombak tentu tidak semua orang pernah mendengarnya. Suara-suara ini menandakan adanya kehidupan, biophony. Terjadinya suara yang merambat melalui gelombang suara, tentu di hasilkan oleh factor fisiologis, biologis dan ekologis dari masing-masing individu. Hidupan liar yang bersuara tentu juga berarti berkomunikasi dengan hidupan liar lainnya. suara-suara juga menggambarkan sebuah ruang ekosistem.

Beberapa peralatan yang di gunakan

Dengan Aman Andei, salah satu warga di Siberut selatan,  kami menyusuri beberapa sudut di Kep.Mentawai, untuk merekam suara-suara hidupan liar. Mencoba mendengarkan apa yang terjadi di habitat asli dan merekam suara-suara alam tersebut. Beberapa suara yang telah kami rekam dapat anda dengarkan di soundclould. 


Selamat mendengarkan.


Monday, October 30, 2017

Akustik primata : Kenali primata dari suaranya

Para sound recordist bilang kalau suara bisa menjelaskan ribuan gambar. Meskipun berupa gelombang suara yang tidak terlihat, namun ada cara atau metode untuk memvisualisasikan suara ini.
Suara-suara primata terutama dari jenis-jenis primata  adalah sangat khas, dan dari suara ini juga telah muncul penelitian-penelitian yang lebih dalam untuk melihat karakter individu.  Karena suara bisa menjadi finger print untuk masing masing individu. Suara juga digunakan untuk monitoring ekologi.

Perkembangan penelitian tentang suara untuk monitoring ekologi dan konservasi juga terus berkembang. Beberapa sumber di internet sangat membantu untuk referensi tentang sound recordist  atau hidupan liar.

Swaraowa telah mengawali kegiatan perekaman suara ini sejak tahun 2014,  ada 2 judul penelitian tentang suara owa telah selesai, dan beberapa data rekaman juga dapat di dengarkan melalui soundcloud. Kami mengajak anda untuk mengenal suara primata Indonesia di habitat aslinya.

Owa jawa (Hylobates moloch) di hutan Sokokembang


Ungko (Hylobates agilis) di Bukit Bulan,Sorulangun, Jambi

Bilou (Hylobates klosii) di Siberut



Owa tangan putih (Hylobates lar) di Aceh.




Meskipun tidak sering bersuara namun jenis-jenis monyet daun juga menarik, seperti

Joja (Presbytis potenziani), Siberut Mentawai

Thomas's Leaf Monkey (Presbytis thomasi), Aceh


Javan langur (Trachypithecus auratus)


Kami membuka kesempatan untuk berkolaborasi bagi anda peneliti atau pegiat konservasi, atau bahkan musisi untuk melakukan penelitian suara, atau berkolaborasi untuk kegiatan pelestarian alam yang terkait dengan suara-suara satwaliar dari habitat aslinya, silahkan emal di : swaraowa@gmail.com

Friday, October 20, 2017

Gibbon Watching, an alternative eco-tour in Java

Javan Silvery Gibbon 

This week our team receiving special guest who want to see wild primates in Sokokembang forest. The guest is coming from WorldWideWeb  to find us, and interested to watch gibbon in the wild. They found our website and contact us by email, soon we arrange dates for them to do primate watching.

From the email they introduce them self from Finland, and have been back packing to Southeast Asia and want to see some Indonesian wildlife, Komodo and Javan gibbon are their list priorities. Jussi and Outi both from Finland have done asking through the emails how to do primate watching in Sokokembang. In this trip we also give an introduction that this trip is a part of conservation activities in Central Java, to promote Javan gibbon (Hylobates moloch) as endangered and endemic primates. And the date come, on 11 October 2017 their visit our base in Yogyakarta, see our coffee house and drinking coffee from our shade grown habitat.
Javan gibbon habitat

Departing from Yogyakarta at afternoon, we head to Sokokembang ride our 4wd vehicle off course with many stops. Along the way chats inside the vehicle made us feel happy to know these guest. And we reach Sokokembang at 9 pm. Soon we reach Sokokembang we introduce to our Pa’e  Tasuri (Owa coffee house owner), and we ask him to guide tomorrow morning for primate watching.
Next morning, soon after coffee ritual about 6.30 we are ready to the field, boot and raincoat is provided, binocular also will help to see the primates. We have already give an introduction about primates in sokokembang, there are Javan gibbon (Hylobates moloch), Javan Langur (Trachypithecus auratus), Javan surili (Presbytis comata) and Longtailed macaques (Macaca fascicularis).
Pa'e Tasuri is guiding to watch the gibbon


There are primate watching route established in Sokokembang, using public road. From this road we can see the primates, however we have been monitor groups distribution along this route. Less than 1 hour walk first primate was detected is Javan langur. The langur is leaf eating monkeys and they living in 2-15 individuals in Sokokembang forest.  Then we are so lucky not so far from the langurs there were Gibbon hanging on the fruiting trees. The gibbon is lesser ape, doesn’t have  any tail and frugivore, their living pair with stable homerange. There are about 21 to 28 groups of gibbon found in Sokokembang forest.
meet and greet due to Javan gibbon
It was fun when we watching the gibbon, a local resident come to us and want to take photo with Jussi and Outi. We explain to the locals that these guests are wanted to see javan gibbon in the wild, far from their home, this is their motivation to visit the rainforest of Java.
drink shade grown help save the forest

Coffee-ing is another following activities, we introduce that our project is grass root level acvtivities,  to promote Javan gibbon also  to engage local community to preserve their natural resources, Owa coffee is sustainable products that meets ecology and economy problems in the Javan gibbon habitat, through this coffee we explain that shade grown coffee of Sokokembang is important for the gibbon habitat and source of income for people nearby the forest. Visiting shade grown coffee and see how the coffee is produced for local market in the Javan gibbon habitat are activities that we share to our special guest.

Thank you for your contribution Jussi and Outi.


PS: feel free, do email us at : swaraowa at gmail.com for further info about this gibbon watching trip.